2.1 Pengertian Batubara
Pada saat kita akan mempelajari batubara maka akan selalu muncul
pertanyaan
|
Apa itu batubara
Proses terbentuknya batubara
Jenis-jenis batubara
Kualitas batubara
Definisi batubara harus ditinjau dari beberapa aspek antara lain : sifat
fisik, kejadian, dan pemanfaatan. Berikut ini untuk memberikan gambaran
mengenai pengertian batubara secara umum dan luas akan disampaikan berbagai
definisi batubara dari beberapa penulis, yaitu:
Thiessen (1947) : Batubara
adalah suatu benda padat yang kompleks, terdiri dari bermacam-macam unsur
mewakili banyak komponen kimia, dimana hanya sedikit dari komponen kimia
tersebut yang dapat diketahui. Pada umumnya homogen, tetapi hampir semua
berasal dari sisa-sisa tumbuhan yang sangat kompleks, terdiri dari
bermacam-macam serat dimana setiap serat terdiri dari beberapa sel. Dengan
sendirinya bahan-bahan tersebut akan berkomposisi sejumlah komponen kimia dalam
perbandingan yang sangat bervariasi.
Spackman (1958) : Batubara
adalah suatu benda padat karbonan berkomposisi maceral. Pengertian batubara disini berarti termasuk semua batubara
dari berbagai derajat batubara (coal rank)
yang diawali dari gambut, lignit, batubara sub-bituminus,
batubara bituminus, semi antrasit, antrasit, dan meta antrasit.
The International Hand Book of Coal Petrography (1963) : Batubara
adalah batuan sedimen yang mudah terbakar, terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan
dalam variasi tingkat pengawetan, diikuti oleh proses kompaksi dan terkubur
dalam cekungan-cekungan yang diawali pada kedalaman yang tidak terlalu dangkal.
Cekungan-cekungan ini pada garis besarnya dibagi atas cekungan limnik (intra continental) dan cekungan paralis
yang berhubungan dengan air laut. Segera setelah lapisan - lapisan dasar turun
terus - menerus, sisa - sisa tanaman yang terkubur tersebut dipengaruhi oleh
proses normal metamorfosis terutama oleh temperatur dan tekanan.
Wolf (1984): Batubara adalah
batuan sedimen yang dapat terbakar, berasal dari tumbuh-tumbuhan (komposisi
utamanya karbon, hidrogen, dan oksigen), berwarna coklat sampai hitam, sejak
pengendapannya terkena proses kimia dan fisika yang mengakibatkan terjadinya
pengkayaan kandungan karbonnya.
ACHMAD PRIJONO, dkk (1992) :
Batubara adalah bahan bakar hydro-karbon padat yang terbentuk dari tetumbuhan
dalam linkungan bebas oksigen dan terkena pengaruh panas serta tekanan yang
berlangsung lama sekali.
2.2 Proses Pembentukan Batubara
Secara umum telah diterima bahwa batubara berasal dari tumbuhan. Tumbuhan
yang tumbang atau mati pada umumnya akan mengalami proses pembusukan dan
penghancuran yang sempurna, sehingga setelah beberapa waktu kemudian tidak
terlihat lagi bentuk asalnya. Pembusukan dan penghancuran tersebut, pada
dasarnya merupakan proses oksidasi yang disebabkan oleh aktivitas bakteri dan
jasad renik lainnya.
Akan tetapi apabila suatu tumbuhan atau pohon yang sudah mati kemudian
jatuh di daerah yang berair seperti rawa, sungai, atau danau, maka tumbuhan
tersebut tidak akan mengalami pembusukan secara sempurna, karena pada kedalaman
tertentu bakteri tidak lagi bisa menguraikan tumbuhan tersebut baik bakteri aerob (membutuhkan oksigen) maupun
bakteri anaerob (tidak membutuhkan
oksigen). Akibatnya sisa tumbuhan
tersebut akan terus mengendap membentuk suatu sediment fossil tumbuhan yang
selanjutnya mengalami perubahan fisik dan biokimia serta dipengaruhi oleh waktu,
tekanan, dan temperature, sehingga membentuk suatu sedimen atau batuan organik
yang sekarang disebut batubara.
Proses pembentukan batubara dari tumbuhan mengalami dua tahap, yaitu : tahap
pembentukan gambut (peatification)
dan tahap pembatubaraan (coalification).
2.2.1 Tahap Pembentukan Gambut
(peatification)
Jika tumbuhan tumbang di suatu rawa, maka dapat terjadi
proses biokimia yang secara vertikal dapat dibagi menjadi dua zona, yaitu zona
permukaan yang umumnya perubahan berlangsung dengan bantuan oksigen dan zona
tengah sampai kedalaman 0,5 m yang disebut dengan peatigenic layer
(Teichmuller, 1982). Pada zona peatigenic terdapat bakteri aerob, lumut, dan actinomyces yang aktif. Bakteri aerob
akan menyebabkan oksidasi biologi pada komponen-komponen tumbuhan yang material
utamanya adalah cellulose. Senyawa-senyawa protein dan gula cenderung
terhidrolisa. Cellulose akan diubah menjadi glikose dengan cara hidrolisis:
C6H10O5
+ H2O Þ C6H12O6
(cellulose) (glikose)
Jika suplai oksigen berlangsung terus, maka
proses ini akan menuju pada
penguraian lengkap dari senyawa organik,
yaitu:
C6H10O5 + 6 O2 Þ 6 CO2 + 5 H2O
Bagian-bagian dari material tumbuhan
tersebut cenderung membentuk koloid dan umumnya disebut dengan asam humus
(humic acid). Lemak dan material resin umumnya hanya mengalami perubahan
sedikit.
Apabila kandungan oksigen air rawa sangat
rendah dan dengan bertambahnya kedalaman, sehingga tidak memungkinkan
bakteri-bakteri aerob hidup, maka
sisa tumbuhan tersebut tidak mengalami proses pembusukan dan penghancuran yang
sempurna, dengan kata lain tidak terjadi proses oksidasi yang sempurna. Pada
kondisi tersebut hanya bakteri-bakteri anaerob
saja yang berfungsi melakukan proses pembusukan yang kemudian membentuk
gambut (peat).
Prosesnya adalah dengan bertambahnya
kedalaman, maka bakteri aerob akan berkurang (mati) dan diganti dengan bakteri
anaerob sampai kedalaman 10 m, dimana kehidupan bakteri makin berkurang dan
hanya terjadi perubahan kimia, terutama kondensasi primer, polymerisasi, dan
reaksi reduksi. Pada bakteri anaerob
akan mengkonsumsi oksigen dari substansi organik
dan mengubahnya menjadi produk bituminous
yang kaya hidrogen, selanjutnya dengan tidak tersedianya oksigen, maka hidrogen
dan karbon akan menjadi H2O,
CH4, CO, dan CO2.
Apabila ditinjau secara vertikal, maka
lapisan gambut paling atas mempunyai pertambahan kandungan karbon relatif cepat
sesuai kedalamannya sampai peatigenic layer, yakni 45-50% sampai 55-60%.
Lebih dalam lagi, pertambahan kandungan karbon mencapai 64%. Kandungan karbon
yang tinggi pada peatigenic layer disebabkan karena pada lapisan tersebut kaya
substansi yang mengandung oksigen, terutama cellulose dan humicellulose yang
diubah secara mikrobiologi.
Dari keseluruhan proses, maka pembentukan
substansi humus merupakan proses penting yang tidak tergantung pada fasies dan
tidak semata-mata pada kedalaman. Oleh karena itu, faktor yang mempengaruhi
proses humifikasi dimana bakteri dapat beraktivitas dengan baik adalah kondisi
lingkungan berikut ini:
1.
Keasaman air, yaitu pada pH 7,0-7,5.
2.
Kedalaman, yaitu pada kedalaman sekitar 0,5 m
untuk bakteri aerob, sedangkan untuk bakteri anaerob bisa sampai kedalaman 10
m.
3.
Suplai oksigen, akan menurun mengikuti
kedalaman.
4.
Temperatur lingkungan, pada suhu yang hangat
akan mendukung kehidupan bakteri.
Potonie
(1920 dalam Teichmuller, 1982 dan Diessel, 1984) menyebutkan bahwa pada
rumpun tumbuhan yang sama, iklim dan kondisi lingkungan yang sama, maka
potensial redox (Eh) memegang peranan penting untuk aktifitas bakteri dan
penggambutan. Ketersediaan oksigen menentukan apakah proses penggambutan
berjalan atau tidak. Berikut ini transformasi organik dalam kaitannya dengan
ketersediaan oksigen, dimana salah satu dari empat proses biokimia di bawah ini
akan terjadi pada tumbuhan yang telah mati, yaitu:
1.
Bahan tumbuhan bereaksi dengan oksigen dan
merapuh (desintegration), menghasilkan zat terbang, terutama CO2,
metan, dan air. Umumnya menghasilkan sisa yang tidak padat. Beberapa unsur
utama tumbuhan akan lebih tahan pada tipe ubahan ini, misal resin (getah) dan
lilin.
2.
Proses humifikasi atau pembusukan, yaitu bahan
tumbuhan akan berubah menjadi humus akibat oleh terbatasnya oksigen dari
atmosfir dan tingginya kandungan air lembab. Batubara yang dihasilkan berupa
humic coal.
3.
Proses penggambutan (peatification), yaitu
keadaan muka air tinggi di atas lapisan yang terakmulasi dapat mencegah
terjadinya oksidasi, akibatnya pada lingkungan yang reduksi dan adanya bakteri
anaerob, jaringan-jaringan tumbuhan menjadi hancur, kemudian terakumulasi dan
menjadi gambut, selanjutnya akan menghasilkan humic coal.
4.
Putrefaction (permentasi) yaitu peruraian
hancuran tanaman akuatik (terutama algae), bahan hanyutan, dan plankton dalam
lingkungan reduksi pada kondisi air diam (stagnant), hasilnya membentuk
sapropel, sedangkan batubara yang dihasilkan adalah batubara sapropelik.
Ciri umum gambut adalah sebagai berikut:
1.
Berwarna kecoklatan sampai hitam.
2.
Kandungan air > 75% (pada brown coal <
75%)
3.
Kandungan karbon umumnya < 60% (pada brown
coal > 60%).
4.
Masih memperlihatkan struktur tumbuhan asal,
terdapat sellulose (pada brown coal cellulose tidak hadir).
5.
Dapat dipotong dengan pisau (pada brown coal
tidak dapat dipotong).
6.
Bersifat porous, bila diperas dengan tangan,
keluar airnya.
Berdasarkan ciri di atas adalah tidak mudah secara pasti membedakan
antara peat dan brown coal, apalagi proses perubahannya berlangsung
secara bertahap.
2.2.
Tahap pembatubaraan (coalification)
Menurut Stach (1972) tahap geokimia atau tahap pembatubaraan disebut
sebagai tahap fisika-kimia (physicochemical stage), yaitu tahap perubahan dari
gambut menjadi batubara secara bertingkat (brown coal, sub-bituminous coal,
bituminous coal, semi anthracite, anthracite, meta-anthracite) yang disebabkan
oleh peningkatan temperatur dan tekanan.
Prosesnya, jika lapisan gambut yang terbentuk kemudian ditutupi oleh
lapisan sedimen, maka akan mengalami tekanan dari lapisan sedimen tersebut,
tekanan akan meningkat dengan bertambahnya ketebalan lapisan sedimen. Tekanan
yang bertambah akan mengakibatkan peningkatan temperatur. Di samping itu,
temperatur juga akan meningkat dengan bertambahnya kedalaman yang disebut
gradien geotermal. Kenaikan temperatur dan tekanan juga disebabkan oleh
aktivitas magma dan aktivitas tektonik lainnya. Peningkatan tekanan dan
temperatur pada lapisan gambut akan mengkonversi gambut menjadi batubara dimana
terjadi proses pengurangan kandungan air, pelepasan gas-gas (H2O, CH4,
CO, dan CO2), peningkatan kepadatan dan kekerasan, serta peningkatan
kalor. Faktor tekanan dan temperatur serta waktu merupakan faktor-faktor yang
menentukan “kualitas” batubara.
Pada tahap ini terjadi perubahan rombakan tumbuhan dari kondisi reduksi
ke suatu seri menerus dengan prosentase karbon makin meningkat dan prosentase
oksigen serta hidrogen makin berkurang. Juga sifat fisik maseral mulai
terbentuk, seperti kenaikan reflektansi maseral batubara seiring dengan naiknya
derajat proses kimia-fisika.
Perubahan-perubahan fisika-kimia berlangsung secara bertahap, yaitu:
1.
Tahap pertama adalah pembentukan peat, proses
berlangsung terus sampai membentuk endapan, di bawah kondisi asam menguapnya H2O,
CH4, dan sedikit CO2 membentuk C65H4O30
yang dalam kondisi dry basis besarnya analisa pada ultimate adalah karbon
61,7%, hidrogen 0,3%, dan oksigen 38,0%.
2.
Tahap kedua adalah tahap lignit kemudian
meningkat ke bituminous tingkat rendah dengan susunan C79H55O141
yang pada kondisi dry basis adalah karbon 80,4%, hidrogen 0,3%, dan oksigen
19,1%.
3.
Tahap ketiga adalah peningkatan dari batubara
bituminous tingkat rendah sampai tingkat medium dan kemudian sampai batubara
bituminous tingkat tinggi. Pada tahap ini kandungan hidrogen tetap dan oksigen
berkurang sampai satu atom oksigen tertinggal di molekul.
4.
Tahap keempat, kandungan hidrogen berkurang,
sedangkan kandungan oksigen menurun lebih lambat dari tahapan sebelumnya. Hasil
sampingan tahap tiga dan empat adalah CH4, CO2, dan
sedikit H2O.
5.
Tahap kelima adalah proses pembentukan antrasit
dimana kandungan oksigen tetap dan kandungan hidrogen menurun lebih cepat dari
tahap-tahap sebelumnya.
Derajat batubara tergantung pada temperatur, yaitu dapat akibat terobosan
batuan beku, gradien geotermal, dan konduktifitas panas batuan. Contoh pada
sedimen Tersier di Upper Rhein Graben dengan gradien hidrotermal 7-80C/100
m, menghasilkan batubara bituminous pada kedalaman 1500 m, sedangkan di daerah
dingin yang gradien hidrotermalnya 40C/100m dapat mencapai derajat
yang sama pada kedalaman 2600m.
Faktor waktu menurut hasil penelitian pada gambut lepas setebal 10-12 ft
akan menghasilkan 1 ft gambut padat memmerlukan waktu sekitar 100 tahun. Dalam
proses dari gambut menjadi batubara terjadi pemampatan dan jika diambil contoh
kayu sebagai basis (100%) pembentukan gambut dan batubara, maka perbandingan
volume dalam % adalah:
1.
Gambut = 28 - 45%
2.
Lignite = 17 - 28%
3.
Bituminous
coal = 10 - 17%
4.
Anthracite = 5 -
10%
Jika diasumsikan bahwa waktu yang diperlukan untuk menghasilkan 1 ft
gambut termampatkan adalah 100 tahun, maka dengan menggunakan persentasi di
atas dapat diasumsikan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk akumulasi gambut
hingga diperoleh ketebalan batubara 1 ft, yaitu:
1.
Lignite = 160 tahun
2.
Bituminous = 260 tahun
3.
Anthracite = 490 tahun
Angka-angka di atas hanya untuk menggambarkan bahwa laju akumulasi gambut
dan batubara sedemikian lambatnya, sementara kondisi di alam demikian banyak
faktor yang mempengaruhinya.
Selanjutnya, tercapainya derajat batubara juga dapat tergantung pada
gabungan temperatur dan waktu. Sebagai contoh, pada batubara dengan kandungan
zat terbang 19% dapat terbentuk pada kondisi:
1.
2000C selama lebih dari 10 juta tahun
2.
1500C selama lebih dari 50 juta tahun
3.
1000C selama lebih dari 200 juta
tahun
4.
50-600C tidak pernah terbentuk
batubara
Berdasarkan penjelasan di atas, maka pada prinsipnya derajat batubara
ditentukan oleh faktor temperatur, tekanan, dan waktu, sehingga bisa
disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mengendalikan adalah:
1.
Derajat batubara sebelum terganggu kegiatan
intrusi atau struktur geologi.
2.
Ukuran dan bentuk kegiatan intrusi atau struktur
geologi.
3.
Jumlah dan asal tekanan.
4.
Jarak batubara dari gangguan.
5.
Suhu batubara dari gangguan
6.
Lama gangguan berlangsung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar